“Satu gunung sudah ditaklukkan”, begitu ucap teman saya dalam perjalanan menegangkan turun dari puncak Gunung Manglayang di Jatinangor. Saya sendiri baru sekali mendaki gunung dan sama sekali tidak menyangka kalau ternyata mendaki gunung itu begitu melelahkan dan menegangkan.
Hari Rabu, 4 Juni 2008, pukul dua siang, 23 orang mahasiswa Teknik Geofisika ITB dari berbagai angkatan yang menamai diri mereka CALDERA (Club Pecinta Alam TERRA), berangkat dari ITB dengan persiapan seadanya menuju Manglayang. Saya sendiri hanya membawa ponco, jaket tebal, 2 kaos kaki cadangan, sarung tangan tebal, senter, dan bahan makanan. Semua itu saya masukkan ke backpack andalan saya yang tidak terlalu besar tapi selalu menemani saya dikala apapun.
Berangkat dari home base, wajah kami masih dihiasi dengan senyum. Namun satu per satu senyum itu hilang dimakan letihnya perjalanan ke kaki Gunung. Kami terdiri dari 18 laki-laki, yaitu Yahya, BK, Sondang, Ilfan, Gilang, Rossi, Prima, Didit, Erick, Bedog, Imad, Fachry, Aboet, Ipay, Dion, Dini, Awe, Alvin, dan 5 orang wanita, yaitu Sheila, Mira, Fitri, P D E, dan saya sendiri.
Kami menyarter angkot dan berangkat ke Dipati Ukur. Di sana sebuah Bus Damri dengan jurusan Dipati Ukur – Jatinangor sudah menunggu kami, kami pun lantas menaiki bus itu dan semua mata memandangi kami. Jelas saja, pikir saya. Hampir setiap kami mengenakan celana lapangan dan sepatu gunung, lalu tiga orang dari kami membawa Carrier, ditambah lagi hampir kami semua mengenakan jaket kebanggaan kami yang berwarna merah bata. Sepertinya sudah cukup untuk kami menjadi pusat perhatian. Hehehe…
Tiba di Jatinangor pukul 4 sore. Untuk pertama kalinya saya melihat Kampus UNPAD di Jatinangor, heheh. Kami lalu makan di sebuah warteg di stasiun tempat perhentian bus, dan sebagian dari kami membungkus makanan untuk dimakan di puncak kelak.
Namun kami belum bisa tersenyum, karena perjalanan kami belum dimulai. Untuk sampai ke kaki gunung saja kami harus berjalan sejauh 5 km menuju Kiara Payung. Di sebuah mesjid di sana kami istirahat dan shalat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jangan senang dulu, kawan, karena perjalanan ke kaki gunung masih jauh… hehehe…
Pukul setengah 8 malam kami memulai perjalanan lagi menuju kaki gunung. Di mana di sana terdapat pos perhentian terakhir kami, sebuah warung kecil tempat kami bisa ngopi. Perjalanan ke sana tidaklah mudah. Karena kami harus berjalan mendaki dan terus terang tenaga saya sudah hampir habis setelah berjalan jauh. Tapi melihat teman-teman saya tetap semangat, saya berusaha menguatkan diri, karena tidak mau kalau sampai harus merepotkan mereka.
Akhirnya kami tiba di warung yang dimaksud. Kami memakai kesempatan ini untuk meminum segelas kopi, berfoto-foto ria, dan sebagian dari kami juga memesan semangkuk mie rebus. Tubuh saya sudah basah karena keringat, dan rambut saya pun sudah nggak karuan. Tapi saya senang menjalaninya bersama teman-teman.
Di warung itu kami harus menyiapkan tenaga terakhir. Karena perjalanan selanjutnya adalah yang paling berbahaya, yaitu pendakian ke puncak gunung. Pukul 9 malam kami mengucapkan selamat tinggal pada si Abah penjaga warung. Si Abah pun sempat menyampaikan beberapa pesan kepada kami yang intinya sih mengucapkan, “Hati-hati…”
Di tengah gelapnya malam kami memulai petualangan kami. Dan setelah beberapa meter berjalan, saya hanya bisa menarik nafas melihat jalan yang harus kami lalui. Kami harus berjalan mendaki bagaikan Spiderman di tanah dengan kemiringan hampir 70o. Saya harus menggunakan kedua tangan dan kaki saya untuk bisa naik ke atas. Tidak jarang saya menarik ranting-ranting di tepi jalan setapak untuk membantu saya naik yang ternyata adalah duri. Jalannya berpasir jadi saya harus hati-hati dalam memilih pijakan.
Benar-benar menegangkan. Ditambah lagi dengan adanya jurang yang sesekali kami temui di tepi jalan setapak. Kaki saya gemetaran setiap kali mencoba melewatinya.
Perjalanan mendaki di kemiringan hampir 70o itu harus kami lalui selama hampir dua setengah jam. Kami berhenti sebanyak lima kali untuk mengatur nafas dan minum. Keringat sudah bercucuran tidak karuan dan gelapnya malam mempersulit pendakian kami. Parahnya lagi, tidak semuanya dari kami yang membawa senter, jadi sesekali saya harus berhenti untuk menerangi jalan teman-teman di belakang saya.
Hampir tengah malam, segala letih akhirnya terbayarkan sesampainya kami di puncak. Akhirnya saya dan teman-teman bisa tersenyum lagi. Seperti di foto yang saya ambil di tengah gelap malam di puncak Manglayang ini:

Rambut sudah nggak karu-karuan. Kaos saya saat itu sudah sangat basah seperti kain pel.
Tapi momen saat itu benar-benar mengagumkan. Saat itu kami berada di ketinggian 1700 meter dan lampu-lampu kota di bawah bersinar bagai bintang. Ketika kami menoleh ke langit pun, terlihat berjuta-juta bintang dan kadang kami pun bisa melihat bintang jatuh. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya benar-benar bisa melihat bintang jatuh dengan mata saya sendiri. Saya ingat dulu orang pernah bilang, jika kita memohon saat bintang jatuh, maka permohonan itu akan terpenuhi, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, hehehe…
Di puncak beberapa dari kami menyantap makan malam mereka, saya sendiri dan beberapa teman saya yang lain hanya merebahkan diri dan memandang lautan bintang di atas, sambil menyanyikan lagu Linger milik The Cranberries.
Setelah selesai mengagumi lautan bintang dan indahnya city lights, kami lalu turun beberapa meter dari puncak dan berkumpul bersama mengelilingi api unggun dan sedikit membicarakan tentang kelanjutan club CALDERA kami. Dan saat itupun Ketua Himpunan yang ikut bersama kami meresmikan CALDERA.
Kemudian saya dan 4 orang wanita yang lain izin untuk istirahat di tenda yang disiapkan teman-teman kami. Dan diantara 5 orang wanita ini, hanya saya yang tidak membawa sleeping bag, alhasil, saya tidak bisa tidur karena kedinginan. Bahkan dengan berbalut dua jaket, sepasang kaos kaki tebal dan sarung tangan pun, dinginnya malam bersuhu hampir 10 derajat masih merasuki saya.
Tidak bisa tidur karena dingin, akhirnya saya keluar dan menemani seorang teman saya, Dini, yang sedang menjaga agar api tetap menyala. Saya merasa jauh lebih nyaman di luar tenda. Karena api membuat tubuh saya tetap hangat. Beberapa saat saya ngobrol dengan Dini sampai akhirnya Sheila pun keluar dari tenda dan bergabung bersama kami.
Pukul 5 lewat kami mulai membangunkan teman-teman yang masih terlelap untuk naik ke puncak dan menanti momen terpenting dalam pendakian kami, Sun Rise. Jauh di depan saya bisa melihat cahaya matahari mulai menampakkan wujudnya. Sedikit demi sedikit ia mulai menerangi pandangan kami hingga kami bisa melihat puncak Gunung Ciremai yang menutupi Sang Surya.

Kami berbaris bagai pasukan perang, tapi yang kami nantikan bukan lawan.
Wajah kami diselimuti kepuasan, bukan ketakutan.
Tak satupun mata terpejam menunggu pagi membuka tirai malam.
Untuk satu pengalaman pertama, saya hanya bisa mengenangnya lagi, dan lagi. Bahkan saat ini pun, di mana saya berada beratus-ratus kilometer jauhnya dari tempat itu, semua rasa sakit di tubuh saya, dan setiap luka kecil di kedua tangan saya, mengingatkan kembali pada perjalanan itu.
Well, sekarang saatnya liburan, kawan. Satu semester sudah kita lewati dan kini saatnya melihat ke depan ke arah masa depan yang kian terbentang untuk kita. Puncak Gunung Manglayang telah menuliskan satu cerita baru pada lembar kehidupanku yang kosong. Dan iramanya akan terus melantun selama matahari masih tersenyum.
Pukul sembilan pagi kami mulai membereskan barang-barang kami dan bersiap untuk turun. Saya mengambil satu foto terakhir di puncak itu bersama teman-teman.

“Satu Gunung sudah ditaklukkan…”, I’m ready for the next semester. Setelah liburan ini berakhir, saya menjadi mahasiswa tingkat tiga. Well, what can I say? Memang berat, tapi itulah tugas kita sebagai mahasiswa… Belajar… bukan Demonstrasi… (loh kok jadi ngelantur?)…
Yah sebagai penutup, saya mau pamer foto sedikit. Foto ini diambil dengan sangat baik oleh teman saya, Fitri. Sayang ekspresi saya kurang bagus, berhubung belum tidur jadi ngantuk. Hahaha…

Adios, mi amigos…