Lima pagi… Hentakan suara hak sepatu wanita yang menyentak ubin menggangguku. Aku tersadar dari tidur dan seketika suara itu terkalahkan oleh suara petir yang membahana. “Hujan mengawali hari…” pikirku. Detik berikutnya, pintu kamarku terbuka dan masuklah sosok wanita berpakaian rapi, tinggi semampai dan elegan. Dialah Ibuku, lengkap dengan pakaian kerjanya, dan sepatu coklat andalannya.
Heran, kupikir. Tidak biasanya Ibuku membangunkanku sepagi ini. Setiap hari adalah sama. Aku bangun saat mentari sudah menyala-nyala tepat di atas, dan menyadari bahwa Ibu dan Adikku sudah berangkat. Namun pagi ini berbeda. Hujan deras memaksaku untuk bangun dan membukakan gerbang untuk Ibu dan Adikku. “Kewajiban seorang anak” kataku dalam hati.
Lalu aku turun dan melihat bagaimana Adikku berjalan kesana-kemari mempersiapkan peralatan sekolahnya. Aku menoleh untuk melihat jam dinding yang tengah berdentang 5 kali. Gila, pikirku. Kapan terakhir kali aku bangun sepagi ini? Pemandangan itu mengingatkanku pada masa-masa SMA hampir dua tahun yang lalu. Saat itu, bangun pukul lima pagi adalah biasa. Bahkan terkadang aku terpaksa bangun lebih pagi dari itu. Memasak nasi, membuat lauk, menyiapkan bekal adikku, dan sebagainya. Semua bayangan akan masa-masa itu melintas di benakku saat itu.
Lalu aku kembali teringat, kehidupanku sebagai mahasiswi. Tinggal di tempat kost sendiri dan merasa bebas. Bangun pukul 6, itupun hanya jika ada kuliah pagi. Bertingkah seenaknya, tidak perlu lagi menyiapkan bekal adikku, tidak perlu mencuci, dan sebagainya. Selama ini aku berpikir, hidupku ini enak sekali. Ternyata semua itu salah… Karena di saat aku menikmati segala kebebasanku di kamar kost itu, Ibu dan Adikku di sini menanggung semua pekerjaanku yang dulu. Bahkan lebih sibuk dari yang kubayangkan…
Yang kutakutkan memang benar terjadi. Satu hal yang membuatku ragu untuk kuliah di luar kota adalah hal ini. Dan sampai sekarang pun aku tetap ragu. “Apa aku terlalu egois? Mengejar mimpi dan meninggalkan keluargaku?”, pertanyaan itu terus membayangiku. Waktu demi waktu…
Hhh… tapi berapa kali dipikir pun jawabannya tetap sama…
“Ya, aku egois. Tapi aku sekarang bisa apa?”
Aku pikir, tentu aku tidak se-egois itu. Aku punya mimpi, dan itu tidak buruk. Aku hanya ingin berusaha, membawa keluargaku ke hidup yang lebih baik. Sehingga kelak aku tidak perlu mencemaskan mereka lagi.
Sebuah pertanyaan baru, yang belum bisa kutemukan jawabannya.
“Apa yang kulakukan di masa kuliahku?”
Sampai sekarang aku tidak tahu…
Namun jika aku ditanya, “Untuk apa?”
Jawabanku hanya satu:
“Untuk keluargaku… Orang-orang terpenting dalam hidupku.”
