Hahaha… Akhirnya, hari ini angka satu yang selalu menemani saya sebagai digit pertama dari umur saya telah angkat kaki. Dan sebagai gantinya, datanglah si angka dua diikuti angka 0 di belakangnya.
Beuh, ribet banget sihh.
Simple nya yaa… hari ini saya menginjak satu dekade baru dalam kehidupan saya. Simpelnya lagi, hari ini saya resmi masuk geng kepala dua. Lebih simpelnya lagi, hari ini saya berulang tahun ke dua puluh.
Jika membayangkan 20 tahun yang sudah saya lewatkan, ada rasa menyesal dan ada juga rasa syukur. Dulu saya sering bilang, “Andai waktu bisa berulang…”, dan kadang sampai sekarang pun kalimat itu masih sering terlontar keluar. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai belajar banyak hal dari orang-orang di sekitar saya. Belajar bagaimana mensyukuri apa yang saya dapatkan sekarang, belajar memahami perasaan orang, belajar bekerja keras untuk mengejar cita-cita, dan segala hal-hal indah sekaligus pahit yang ditawarkan dunia ini. Dan dari semua pelajaran yang telah saya dapatkan itu, kali ini saya hanya ingin mengatakan satu hal pada satu Orang saja:
“Terima kasih, Tuhan”
Dia, yang telah memberikan saya dua puluh tahun yang begitu indah dengan rancangan-Nya, yang dengan kasih setia-Nya selalu menolong saya di waktu kesesakan, dan yang telinga-Nya selalu terpasang dan menjawab doa-doa saya.
Saya bersyukur memiliki orang tua dan keluarga yang begitu mencintai saya. Saya bersyukur diberi Tuhan sahabat-sahabat yang begitu baik. Saya bersyukur Tuhan mengajari saya bagaimana mengasihi. Dan saya bersyukur atas kasih karunia Tuhan yang begitu besar dan tak pernah berhenti mengalir dalam hidup saya.
Waaahh… seakan sudah tidak ada lagi yang saya sesali dalam hidup saya ini. Saya selalu mencoba melewati setiap hari dengan senyum, dan saya akan terus melakukannya.
Jadi, sekarang saya siap menghadapi tantangan baru dalam hidup saya. Kelak tidak ada lagi kalimat “Andai waktu bisa berulang” dalam kamus saya, karena penyesalan itu hanyalah sebuah batu sandungan yang menghalangi jalan saya ke depan. Selama manusia selalu melihat ke belakang, ia tidak akan tahu jalan lain yang lebih lapang di depannya.
Hari ini saya rindu membaca Alkitab dan menemukan ayat ini:
Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya , kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”
Yakobus 4: 14-15
Semoga saya bisa menerapkannya dalam hidup saya. Kan ada pepatah: “Rencanakanlah hidupmu seakan kau akan hidup seabad lamanya, tapi hiduplah seakan kau hanya hidup satu hari”.
Sebagai penutup post pertama di usia saya yang ke-duapuluh ini, saya ingin menyapa teman-teman terkasih…
Orang-orang yang kusayangi, serta bahu kanan tempat ku bersandar,
Di tengah lelahku mengejar Sang Mimpi
Sengsara kian datang dan menyapa
Waktu pun singgah duduk bersama
Si gadis pemimpi nan letih ini
Jalan ini berkelok dan berduri
Hingga aku tak sanggup lagi berdiri
Namun si pemimpi ini tidak sendiri
Jauh di depan sana
Aku yakin dan percaya
Mereka berdiri dan menanti
Hingga akhirnya meraih tangan ini
Ruth C.B.
Terima kasih, sahabat-sahabatku.