Satu minggu berlalu lagi, haha… saya lega karena sudah melewati setengah dari penderitaan saya di masa-masa ujian ini. Minggu Ujian Tengah Semester di jurusan saya tercinta, Teknik Geofisika ITB telah berlangsung setengah jalan. Tapi dari tiga ujian yang sudah saya hadapi, hanya satu yang benar-benar membuat saya lega. Anehnya, justru satu mata kuliah itu adalah mata kuliah yang tidak saya sukai. Dari awal memasuki semester empat sampai sekarang, saya nggak pernah menemukan ‘greget’ untuk mata kuliah Komputasi Geofisika. Saya sering telat masuk kuliahnya yang jam tujuh pagi, saya nggak pernah niat mengerjakan tugas-tugas rangkumannya yang menyita waktu, saya nggak suka proses belajarnya, saya nggak suka dosennya, dan baaaaanyak hal lain yang membuat saya nggak suka dengan matakuliah itu.Tapi saya rela mengorbankan waktu tidur saya untuk mata kuliah itu. Bayangkan, saya nggak tidur SEMALAMAN demi belajar dan latihan mengerjakan soal-soal. Mungkin ketakutan saya untuk menghadapi ujian mengalahkan rasa kantuk saya malam itu. Jelas saya takut, wong saya itu ndak pernah merhatiin dosen kalau di kelas. Kadang-kadang saya kasian sama dosen saya yang berjenis kelamin wanita itu. Dia sudah capek-capek bikin slide-slide kuliah yang sebegitu bagusnya, tapi nggak ada satupun yang nyantol di otak saya.
Jadi di hari sebelum ujian, saya sengaja menyempatkan untuk tidur siang karena saya sudah bertekad untuk kerja rodi malam itu. Saya tidur dan terbangun pukul 7 malam. Dan hal pertama yang terlintas di otak saya adalah bagaimana saya bisa menempuh ujian besok berbekal otak kosong yang nggak mengerti apa-apa? Dan bayangan itu berhasil membuat saya 100% terbangun, mandi, dan mulai membuka buku meski rambut saya masih basah.
Saya buka lagi buku pelajaran dari awaaaal sekali. Maklum, sebelumnya saya sama sekali nggak tahu menahu akan apa yang sebenarnya saya pelajari di Komputasi Geofisika. Halaman demi halaman saya baca dan setiap selesai mempelajari satu bagian, saya mulai berlatih mengerjakan soal. Begituuu terus sampai saya sadar waktu sudah pukul 3 pagi. Mata saya mulai berat tapi masih ada satu bab yang belum saya pelajari.
Saat itu ada dua opsi yang terlintas di benak saya:
- Terus melanjutkan belajar dan berjuang melawan kantuk.
- Berhenti sampai di situ dan berdoa supaya bab yang belum saya baca tersebut tidak keluar besok di ujian.
Bab yang saya maksud tersebut berjudul: Interpolasi Spline Kuadrat. Satu bab yang sebenarnya baru dibahas sekilas oleh dosen saya. Tapi meskipun begitu, saya yakin sekali bahwa besok pasti soal mengenai itu akan keluar di ujian. Jadi saya memilih opsi pertama. Saya pergi sebentar ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dengan air yang dinginnya setengah mati, kembali ke kamar dan menyeduh secangkir kopi. Yang sejujurnya, cangkir ke-tiga saya malam itu.
Dua jam kemudian, saya selesai mempelajari bab itu. Sampai akhirnya saya dapat mengetahui cara mengubah 11 persamaan menjadi bentuk matriks 11 x 11. Butuh waktu satu jam buat saya untuk mengetahui cara memecahkan matriks tersebut.
Hehe… mungkin semua berpikir, niat banget saya sampe membuat matriks ini di komputer. Yah, maklum, saya baru terbiasa dengan program yang baru saya install di komputer saya, yaitu Encarta. Ternyata manfaatnya banyak sekali.
Oke balik ke cerita. Jadi saya berkutat selama hampir satu jam saya mencoba menemukan metode apa yang harus saya pakai untuk matriks sebesar itu. Yah, ujung-ujungnya, saya pakai cara kuno, substitusi dan eliminasi biasa. Ternyata cara itu lebih bisa memuaskan saya daripada memakai metode Gauss, Dekomposisi LU, dan semacamnya.
Akhirnya saya bisa mengakhiri belajar saya dengan tenang. Meski ada satu hal yang membuat saya takut, ujiannya close book dan saya ragu apakah semua rumus-rumus itu masih nyantol di kepala saya. Saya selesai belajar pukul 5 pagi, lalu saya mandi dan bersiap-siap ke kampus karena ujian mulai pukul 7. Di sepanjang perjalanan saya tak berhenti-berhenti membuka catatan saya untuk mengingat rumus. Tidak lupa saya bertanya tentang hal-hal yang tidak saya ketahui pada teman-teman saya sesampainya di kampus.
Hasilnya? Yah, bisa dibilang saya lumayan sukses. Tapi… soalnya hanya 5 tapi jawabannya paaaanjaaaang sekali. Lima halaman folio bergaris penuh dengan tulisan tangan saya. Saya rasa, tangan saya lebih capek menulis daripada otak saya yang capek berpikir. Kalkulator tak berhenti bekerja selama 2 jam ujian. Kasian, mungkin kalau kalkulator saya bisa ngomong, mungkin dia sudah teriak-teriak. Nggak henti-hentinya saya pencet kalkulator saya, bayangkan saja seperti orang yang sedang ngitung hutang. Hehehe… Meski begitu, saya tetap merasa waktu 2 jam itu kurang. Makanya saya sempat keringat dingin setelah satu jam berlalu dan saya baru selesai 2 soal. Mungkin hal itu yang membuat teman-teman saya banyak yang garang. Saya sendiri juga tidak menyangka dosen saya bakal setega itu memberi soal. Gila… 2 jam yang benar-benar melelahkan dan menguras otak. Keluar dari ruang ujian, saya tidak tahu mesti senang atau sedih. Di satu sisi saya bersyukur ujiannya berjalan lancar dan tidak ada soal yang membuat saya geleng-geleng kepala. Tapi di sisi lain, saya ngantuuuuuuuuk sekaliiiii….

