Posted by: Ruth on: February 23, 2009
Setiap pagi saya terbangun, pikiran saya sudah tidak sama seperti dulu lagi…
“Saya sadar saya sudah berumur 20 tahun, bahkan dalam waktu kurang dari dua bulan saya akan beranjak 21 tahun.”
“Saya sadar saya sudah menginjak tahun ke tiga, semester ke 6 di jenjang perkuliahan saya di Jurusan Teknik Geofisika ITB ini.”
“Saya sadar bahwa setelah semester ini berakhir, saya hanya memiliki sisa 31 sks untuk memenuhi kredit minimal untuk kelulusan saya.”
“Saya sadar bahwa tahun ini saya akan melakukan kuliah lapangan dan kerja praktek yang mau tidak mau harus saya hadapi dengan penuh rasa tanggung jawab dan keprofesionalan.”
“Saya sadar bahwa saya sudah tidak ada waktu lagi untuk main-main dalam bentuk apapun kalau saya tidak mau tertinggal jauh dari teman-teman saya.”
“Saya sadar bahwa saya bukan lagi seorang anak kecil yang harus disuapi.”
“Saya sadar bahwa saya membawa amanah yang besar dari kedua orang tua saya, terutama Ibu saya yang sudah dengan rela membiarkan saya kuliah di Bandung, meninggalkan beliau di rumah hanya berdua dengan adik laki-laki saya.”
“Saya sadar betapa beratnya tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki bagi Ibu saya, yang artinya tidak ada lagi orang yang membantu beliau mengerjakan pekerjaan rumah, tidak ada lagi anak perempuannya yang bisa membantunya belanja, tidak ada lagi saya yang biasa menemaninya setiap hari. Namun beliau tetap berkata “Ya” saat saya hendak pergi meninggalkan Jakarta untuk mengejar mimpi.”
“Saya sadar bahwa keberadaan saya sat ini bukan untuk menyenangkan diri sendiri, melainkan untuk menyenangkan Ayah dan Ibu saya.”
“Saya sadar betapa saya memimpikan kepulangan Ayah saya jauh-jauh dari timur Indonesia hanya untuk melihat putrinya di wisuda.”
“Saya sadar bahwa setiap peluh, setiap rasa sakit, dan setiap cangkir kopi yang saya habiskan setiap malam hanya untuk begadang dan belajar itu saya persembahkan untuk kedua orangtua saya. Untuk satu momen di mana mereka dapat menatap saya dengan penuh kebanggaan, dan untuk setetes air mata bahagia yang mungkin akan menetes dari kedua mata Ibu saya.”
“Saya sadar betapa besar saya berterima kasih pada Tuhan telah menitipkan saya kepada mereka.”

Dan saya sadar…
Bahwa seluruh hidup saya adalah untuk mereka.
Saya tersindir
Saya kebanyak maen neh
Anyway nice post
Thx udah nyindir saya
Hehehe
anah ya,,
kq malah jd pd kepikiran ortu.,.,,
saya yg sudah bertahun” hidup berpisah ortu
SD 6 taun, SMA-kuliah hampir 5 taun.,.,.
biasa aja,.,.,.,
mungkin dah terbiasa.,.,.,.,
heh e he h.,.,.
saya juga makin sadar, hari berlalu takkan pernah berbalik
saya juga sadar, banyak cita yang tinggal asa
saya juga sadar, kalo saya tambah tuwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
xixixixiiixx..
salam kenal
wah..proses penyadarn diri yah ..
hmm ..
well, best of luck in life yaaa..
*mampir*
wow. iyuth dewasa sekali.semoga waktu gw kuliah bisa tersadar seperti yang lo lakuin. terima kasih.
nice post
syukurlah anda masih sadar..hehe
tapi sadarkah anda kalo sekarang saatnya anda mulai menentukan jalan hidup anda sendiri? sukses deh..
halloo!
tukeran link yuu
hehe.. noree is back! 2 thumbs of my hand up.. (kalo jempol kaki udah pasti bediri pas posisi duduk telentang..0_0),, jujur.. bakat nulis lw keren banget.. iya, mesti bersyukur tuh. biarpun blom kenal tp gw suka nih baca-baca tulisan ‘yang kamu bilang cuap-cuap ga penting’.. outputnya bwt gw sendiri.. be postive..! (pas, kayak nama band dari lagu favorite gw.. pagi-positive.. apa sehhh.. ^v^).. eh.. tapi gw rekomendasiin deh lagunya bwt lw dengerin, asli.. top..
February 23, 2009 at 2:20 pm
wah dalem amat tuh yuth, jadi sedih ne, karna ga punya perasaan yang ‘peka’ gitu ky iyuth…
)
eh tugas nge-Tag-nya ntar dolo ya yuth…(benwit lagi lemot bgt deh, buka googlenya aja ga nahan