Posted by: Ruth on: May 2, 2008
Nggak tahu kenapa yaa, saya merasa cara pikir saya (dan beberapa teman-teman saya) itu seperti berubah sejak kami menjadi mahasiswa. Mungkin karena suasana kuliah yang bikin kami stress, atau ketidak-seimbangan kinerja otak kanan dan otak kiri kah?
Ada satu contoh nyata kenapa saya bisa menulis post ini:
———————————————————–
Suatu hari di kost teman, saya berencana membuat tugas untuk dikumpulkan esok harinya. Saat itu saya telat dan memang teman-teman saya yang lain sudah hampir selesai mengerjakan tugas tersebut. Saya lantas mendatangi mereka dan terjadilah percakapan ini:
Saya: Sorry, Tine telat… Udah selesai tugas lo?
Christine: Udah dong.
Sheila: Gampang kok sebenernya.. Ciyeeh, bisa sob gitu. (Note: inilah bahasa anak-anak jaman sekarang. SOB=SOk Betul)
Christine: Tapi grafiknya belom. Gue ma Sheila juga bingung dari tadi, gimana cara bikinnya.
Saya: Emang mau kayak apa sih grafiknya?
Sheila geleng-geleng kepala.
Christine: Ya grafik biasa. Cuman gue bingung bikinnya. Ini gue dah baca-baca buku kalkulus lagi tapi masih bingung juga.
Saya lantas bingung. Karena saya nggak percaya untuk mata kuliah yang mempelajari Metode Numerik, yang sebagian besar berinteraksi dengan program komputer, masih menggunakan cara-cara analitik seperti yang dipelajari saat mata kuliah Kalkulus. Jadi saya lontarkanlah pertanyaan ini pada mereka,
Saya: Emang pake Excel nggak bisa?
Dan hening sodara-sodara… Unbelievable saya bilang. Padahal itu cuma pertanyaan basa-basi yang saya pikir, “ngapain juga gue nanya, pasti mereka buka buku Kalkulus karena gak bisa dibikin pake Excel”. Teman saya yang bernama Sheila dan Christine ini saling liat-liatan dan pasang wajah macam tokoh kartun waktu bilang “hah?”
Saya: Udah dicoba pake Excel belom? (saya jelas nanya lagi untuk memastikan)
Christine: Eh?,,, Belom. Hehehehe… Emangnya bisa ya?
Saya: Ya ampuunn… Selama ini kita bikin grafik buat tugas-tugas pake apa emangnya?
Sheila: Iya ya… Kok kita nggak kepikiran ya?
Sheila dan Christine pun liat-liatan lagi dan keduanya pun tertawa sendiri. Saya hanya bengong ngeliatin mereka.
Christine: (masih sambil ketawa) Gue pikir grafiknya yang kayak dulu itu lho, Yut. Yang pake titik stasioner, titik maks global, lokal, gitu… Nggak yaa?
Saya: Hhhh… Yaelah, Tine… kita idup di jaman kapan emangnya?
Mereka berdua pun ketawa-ketawa lagi. Akhirnya saya menawarkan diri membuatkan grafik tersebut dengan menggunakan software topcer Microsoft Office Excel yang sebenarnya lebih bermanfaat dari Buku Kalkulus. Hehehe.
———————————————————–
Dari contoh kedua teman saya itu, saya menarik kesimpulan bahwa kebanyakan mahasiswa stress jaman sekarang cenderung melihat suatu masalah dari cara yang sulit. Mungkin ini cara berpikir yang dibentuk berkat tahun-tahun di kampus yang dicekoki dengan pelajaran yang memaksa mereka berpikir ke arah yang sulit.
Atau ada alasan-alasan lain yang belum saya ketahui saat post ini dipublikasikan? Saya tidak tahu. Yang jelas kejadian-kejadian lucu seperti di atas kerap kali terjadi di kehidupan saya. Karena saya pun, meski nggak pinter-pinter amat, seringkali memikirkan jawaban-jawaban yang sulit padahal sebenarnya masalahnya sepele.
Yah… itu pendapat saya sih. Ada yang mau berkomentar?
May 2, 2008 at 3:08 pm
bener iyah salah juga iyah. hihihihi
kadangkala seseorang yang ahli pada sesuatu hal belum tentu ahli di bidang lain. jadi ingat saya pernah diomelin karena nda bisa pake excel untuk mengecilkan suatu ukuran database padahal saya gunakan untuk mengkalibrasi laser.
jadi untuk jawaban diatas bukan karena mau-nya yang susah, mungkin karena belum terbiasa atau ahli menggunakan excel. hihihihih
enjoy, peace and love