Posted by: Ruth on: April 6, 2008
Pukul 7 pagi kemarin, saya terbangun disambut dengan terangnya pagi lewat jendela kamar saya. Dengan panik saya langsung berlari ke kamar mandi karena saya sudah berjanji akan tiba di kampus pukul 7 pagi saat itu. Sebagai seksi konsumsi acara Bakti Sosial TERRA, yang ada di pikiran saya waktu itu hanya membeli makanan untuk teman-teman panitia yang sudah semalaman bekerja di lokasi acara. Akhirnya, dengan pakaian seadanya (tak lupa memakai jaket kebanggaan) dan sekedar cuci muka dan sikat gigi, saya pun lekas berangkat menuju kampus. Ternyata, keadaan di kampus masih lenggang-lenggang saja. Dan mobil yang akan mengantarkan kita ke lokasi, Soreang, juga belum datang. Otak saya terus berputar memikirkan akan memesan makanan di mana. Saat itu masih pagi dan hanya segelintir warung makan yang sudah buka di belakang kampus, dan saya harus membeli makan siang untuk panitia dan dokter yang akan memberikan pengobatan gratis. Yah, akhirnya, dengan berbagai perhitungan, saya berhasil membeli 25 bungkus nasi dan 3 kotak makan siang yang dibutuhkan, lalu berangkat ke Soreang dengan tenang. Hari itu, 5 April 2008, TERRA (himpunan tercinta) mengadakan Bakti Sosial di daerah Soreang. Di suatu desa bernama Kramat Mulya, kami berencana untuk mengadakan pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, dan pembagian sembako. Saya tiba di lokasi pukul 10 lewat, dan keadaan di sana sudah ramai. Banyak warga mengantri untuk mendapat pengobatan gratis dan anak-anak kecil berlari kesana-kemari meramaikan suasana. Beberapa saat kemudian, saya membantu teman saya di meja registrasi pengobatan gratis. Benar-benar tidak bisa istirahat, warga terus datang tanpa habisnya bahkan sampai melewati target 100 orang yang kami tetapkan sebelumnya. Tadinya sempat mau menutup pendaftaran saja. Tapi melihat orang-orang tua datang sendirian untuk minta diperiksa, masa ia kami tega menyuruhnya pulang? Sungguh kasihan sekali warga di sana. Lingkungannya benar-benar kotor, makanya tidak sedikit warga yang mengeluh sering sakit perut, masalah pernapasan, dan sebagainya. Bayangkan, warga di sana buang air besar dan kecil di selokan depan rumah mereka sendiri. Bahkan di lokasi depan rumah Kepala Desa, terdapat satu kamar mandi terbuka dekat sumur untuk digunakan oleh kurang lebih 10 keluarga. Selokannya sudah benar-benar kotor, menggenang begitu saja dan tidak mengalir. Saya sudah takut mesti menahan buang air kecil selama di sana (saya mikir sejuta kali pun nggak akan mau memakai toilet terbuka itu), tapi untungnya rumah Pak Kepala Desa punya kamar mandi sendiri, tapi itu pun, harus ditemani seseorang karena kamar mandinya tidak bisa ditutup. Pintunya terbuat dari seng dan menggantung begitu saja tak ada gunanya. Akhirnya saya menggunakan kamar mandi ditemani seorang teman saya untuk menjaga pintunya. Hhh, benar-benar deh… Sesaat sebelum penyuluhan, salah seorang dokter yang melayani warga mendatangi saya di meja registrasi dan mulai bercerita tentang bagaimana menyedihkannya kehidupan warga di sana sambil tak jarang menggelengkan kepala. Yah, jangankan seorang dokter, saya yang cuma tahu sedikit masalah kesehatan saja tidak habis pikir membayangkannya. Penyuluhan berlangsung kurang lebih 15 menit kemudian pengobatan gratis pun dilanjutkan. Karena keterbatasan waktu, akhirnya rencana untuk membagikan sembako setelah pengobatan gratis pun diganti. Warga terus saja berdatangan minta diperiksa, kami pun memutuskan untuk membagikan sembako saat itu juga sambil melakukan pengobatan gratis.
Susahnya Beli Minyak Goreng Kami menyiapkan sembako untuk 80 Kepala Keluarga. Sembako tersebut dapat terbeli dengan bantuan sumbangan dari anggota-anggota TERRA, bantuan dana dari Fakultas, dan hasil penjualan baju. Ada kejadian lucu saat kami membeli sembako di hari sebelumnya. Kami membeli minyak di Carefour karena menurut kami, harga minyak di sana lebih murah daripada minyak curah. Kami pun singgah di Carefour dan langsung menuju bagian minyak goreng. Memang benar, sedang ada diskon dan harga minyak 1 liter hanya 11.000 rupiah. Tapi ada masalah, satu customer hanya boleh membeli maksimum 3 bungkus. Jelas kami panik, karena kami berniat membeli 80 bungkus. Kami pun mencoba berbicara dengan Manajer di sana, mengutarakan niatan kegiatan Bakti Sosial kami dan meminta izin untuk membeli minyak di luar kuota yang ditentukan. Namun yang kami dapatkan adalah penolakan dengan alasan: “Maaf, Mbak, tapi memang sudah dibatasi segini.” Lucu, pikir saya. Memangnya apa yang mereka takutkan dengan membiarkan kami membeli banyak? Takut kami ternyata menumpuk minyak goreng? Toh kami sudah mengatakan akan mengadakan baksos dan minyak tersebut akan kami bagi-bagikan ke warga yang membutuhkan. Tapi kenapa tetap tidak diperbolehlan? Apa tidak percaya sama kami? Malah lebih lucu lagi, mahasiswa macam kami buat apa nimbun minyak goreng? Anehnya lagi, kali berikutnya kami meminta berbicara dengan pihak manajemen, orang yang bersangkutan tidak juga mendatangi kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk membeli minyak sesuai kuota, lalu masuk kembali membeli 3 bungkus, begitu seterusnya sampai terkumpul 80 bungkus. Kami bertujuh saat itu jadi setiap kami memegang satu keranjang dan bolak-balik masuk membeli minyak. Membayangkan bakal mengantri sampai 4 kali, saya pun memutuskan untuk membawa 5 bungkus sekaligus. Peduli amat, saya pikir. Memangnya kasir bisa apa kalau saya mau beli 5? Berbagai kalimat sudah saya siapkan kalau-kalau saya tidak diperbolehkan membeli 5 di kasir nanti. Tapi ternyata, petugas kasir tidak bicara apa-apa. Dia hanya bilang: “Minyak Goreng Avena-nya 5 bungkus ya, Mbak. Semuanya 55.100 rupiah.” Hhh, lega…. Kata saya dalam hati. Ternyata tidak ada masalah tuh. Malahan saya membayarnya dengan uang recehan koin. Hahaha… ibu-ibu di belakang saya bingung lihat saya. Jelas saja, membeli 5 liter minyak goreng, lalu membayar pakai receh, kalau saya sih pasti akan berpikiran yang aneh-aneh.
Senangnya Menolong Orang Lain Yah, singkat kata, akhirnya kami berhasil membeli barang-barang yang kami butuhkan. Dan sembako-sembako tersebut sampai ke tangan warga seperti yang kami harapkan. Acara memang tidak berjalan seperti yang kami harapkan, tapi kami puas telah melaksanakan acara tersebut sampai selesai. Ada seorang bapak-bapak menyalami kami satu persatu sambil mengucapkan terima kasih. “Nuhun ya, Neng… Terima kasih banyak.” Katanya. Begitu terus sampai semua yang memakai jaket TERRA disalami satu persatu. “Jaket-jaket beureum”, kata Bapak Kadesnya mah. Hehehe. Saya nggak henti-hentinya tersenyum melihat wajah senang dari warga yang selesai mendapatkan sembako dan pengobatan gratis. Ada seorang wanita tua berjalan mendatangi saya sambil menggotong plastik sembako lalu menyalami saya dan mengucapkan terima kasih. Saya tahu plastik itu berat jadi saya menawarkan untuk membawakan sembakonya dan mengantarnya pulang ke rumah. Tapi ibu itu bersikeras mau membawanya sendiri. “Nggak usah, Neng.”… Kira-kira itu artinya. Sebenarnya ibu itu ngomong pake bahasa sunda yang artinya seperti itu, tapi saya lupa bahasa sundanya apa. Akhirnya saya bantu dia jalan sebentar tapi dia memegang tangan saya dan bilang bahwa dia bisa pulang sendiri dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Sedikit kecewa karena sudah berniat membawakan sembakonya dan mengantarnya pulang, saya hanya melambai dan mengucapkan: “Hati-hati jalannya, Ibu…” Huwaah, senang rasanya bisa membantu orang lain. Saya pernah merasakan hal yang sama seperti ini, demi menolong teman saya, saya terpaksa mengorbankan rencana saya untuk bisa pulang ke Jakarta di hari Jum’at. Awalnya memang tidak bisa terima, tapi mendengar suara teman saya yang langsung lega ketika saya mau membantunya, saya jadi senang sekali. Perasaan menyesal karena tidak bisa pulang ke rumah seakan dikalahkan oleh perasaan senang karena sudah membantu teman. Begitu juga saat Baksos. Kami semua berkorban banyak: waktu, tenaga, uang, dan semacamnya. Tapi tak satupun dari kami yang mengeluh. Karena perasaan bahagia telah menolong orang itu mengalahkan segalanya. Rasanya seperti rasa terima kasih dari orang-orang yang kita tolong itu menyembuhkan semua perasaan nggak enak di hati kita. Percaya deh… coba saja mulai dari orang-orang terdekat, sahabat misalnya. Jika ada yang bisa kita lakukan untuk mereka, ya lakukanlah. Jika kalian stress, punya beban di hati, atau apapun itu, dan mencoba melakukan sesuatu untuk sedikit mendamaikan hati, cobalah menolong orang lain. Kedengarannya memang lucu: Diri sendiri butuh ditolong malah disuruh menolong orang lain? Tapi percayalah… Jalan untuk mencapai kebahagiaan hati itu bukan lewat apa yang kita lakukan untuk diri sendiri, tapi lewat apa yang kita lakukan untuk orang lain. Jika dilakukan dengan tulus, perasaan setelah menolong orang akan jauh lebih luar biasa dibandingkan dengan sekedar memenangkan undian. “Senyum mu datang dari hatimu sendiri… Senyuman di wajah orang lain, terukir karena senyum mu. Tawa mu ada karena senyuman orang lain… dan tawa mereka, ada untuk menjawab perasaan tulusmu. Bahagia mu ada karena keikhlasanmu… Kebahagiaan mereka, tinggal selamanya dalam hati.”
wah, saya terlalu banyak cuap2 nih.. hehe… Lebih jelas tentang kegiatan baksos kami, bisa dilihat di blognya Christine. Ada foto2 lucunya juga… hehe. Adios, semuanya…
[...] Jelas saya ngiri. Tapi seperti yang saya pernah ceritakan di post saya sebelumnya, mengenai indahnya menolong orang lain, saya justru merasa senang sekaligus [...]
April 6, 2008 at 7:10 am
yang paling berkesan selain hari-h emang saat kita belanja itu.. heran ya.. udah dijelasin alesannya kaya gitu, tetep aja gak mau ngasih izin beli… yah saat dilarang apalagi yg bisa kita lakukan, ya CURI-CURI.. haha..