Posted by: Ruth on: March 30, 2008
Sekarang ini saya duduk di sebuah bangku di depan komputer nomor 6, di sebuah warnet di simpang dago. Sambil berchatting ria dengan sahabat-sahabat, saya sedikit panik melihat billing yang sudah menunjukkan angka 4.900. Yah, berhubung saya cuma punya 10.000 di dompet saat ini, suka duka mahasiswa. Maklum, ini akhir bulan, kiriman baru datang lusa jadi saya harus ekstra irit.
Pagi ini saya duduk sendirian di gereja. Dua teman saya yang biasanya bersama dengan saya ternyata ikut kebaktian di jam sebelumnya. Dengan penuh harap saya menunggu mereka di tempat biasa tapi dua orang yang saya maksud tak kunjung datang. Yang saya lihat justru mantan gebetan… hehehe.
So, dengan anggapan mereka sudah masuk duluan, atau mereka terlalu terlambat (pulsa saya yang tinggal 265 perak membatasi kemampuan saya untuk menghubungi mereka), jadi saya masuk ruang kebaktian seorang diri.
Keadaan seperti itu membuat saya teringat pada drama Korea yang saya tonton belakangan ini. Judulnya adalah 9 End 2 Outs. Saya sendiri tidak terlalu mengerti artinya, tapi drama itu menghubungkan antara kehidupan manusia dengan permainan Base Ball.
Jadi, inti ceritanya adalah tentang seorang wanita berumur 30 tahun yang belum menikah, masih tinggal dengan ibunya, selalu menolak dijodohkan, dan ibunya stress melihat anaknya yang hobi menulis.
Lucu yaa, saya melihat cerita ini sedikit banyak mirip dengan kehidupan pribadi saya. Saya sempat berpikir mungkin saya akan seperti dia di umur 30 tahun nanti. Yah, tidak semirip itu sih. Kalau di cerita disebutkan wanita itu benar-benar suka menulis sampai mimpi mendapat penghargaan atas karyanya, saya hanya menganggap menulis itu sebagai hobi. Terlepas dari semua yang saya pelajari di jurusan tercinta, saya menemukan sebagian jiwa saya lewat menulis, baik cerita maupun puisi. Meski saya tidak mahir-mahir amat… hehe.
Selama saya duduk sendirian di gereja dan mendengarkan khotbah yang disampaikan Pdt. Cohen, saya melihat sekeliling saya dan menyadarai bahwa saya satu-satunya orang di barisan tempat duduk ke 10 dari depan yang datang sendirian. Semua orang sepertinya saling berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya sembari mendengarkan.
Aneh, pikir saya. Itu bukan pertama kalinya saya ke gereja sendirian tapi kenapa pagi tadi saya merasa benar-benar kesepian? Biasanya saya cuek saja duduk sendiri di gereja, meskipun di samping kanan dan kiri saya kosong. Tapi pagi tadi entah kenapa saya merasa sepiiii sekali. Padahal khotbahnya tidak membosankan, tapi tetap saja saya merasa ada yang kurang. “Mungkin efek dari drama yang baru saya tonton,” kata saya dalam hati.
“Tua, dan kesepian. Aku belum melakukan apa-apa dan sekarang umurku sudah 30 tahun.”, begitu kata Hong Nan Hee, tokoh utama dalam cerita, sambil menangis di ulang tahunnya yang ke 30, bertepatan dengan Tahun Baru.
Kalau dipaparkan seperti itu memang kelihatannya sangat menyedihkan… Hehe, tapi saya tersentuh melihatnya. Dan melihat kemiripan cerita itu dengan saya sendiri, saya jadi penasaran akan endingnya. Hehe…
Here I am once again, in my addictance to dramas while there are lots of things that I have to care about instead of watching dvds.
Sudah lama saya belum menulis puisi lagi. Jadi sekarang saya mau menulis lagi. Mumpung suasananya lagi enak (warnet tempat saya berada sedang memutarkan lagu-lagu 80’s).
Ini adalah dunia penuh kata-kata
Di tempat ini, suaramu tak terdengar
Namun jiwamu ada di sini, menyaksikannya
Semua mata terbuka, namun hanya satu yang melihat
Semua telinga tersingkap, namun hanya satu yang mendengar
Hanya di sini… Aku bisa berbicara
Hanya di sini… Aku merasa ada
Dan hanya di tempat ini, aku adalah diriku
Sekali lagi, selamat hari minggu semuanyaa… Tuhan Memberkati.
March 30, 2008 at 7:31 am
yutt, punten pisaaann… kelupaan gini nelpon! soalnya tuh gw baru tidur jam 4 tadi pagi.. maaap sekali… duh2 lain kali gka terulang lagi deh such miscommunication…
happy sunday.. get thru this week with a whole new spirit…
S E M A N G A T!