Pukul enam pagi. Angga keluar dari kamarnya menuju beranda, dan menghirup udara pagi yang segar namun menyakitkan. Jiwanya sudah tidak tinggal di sana lagi. Hanya ada tatapan kosong dan ribuan kesedihan yang mengoyak jantungnya perlahan tapi pasti.
Kertas lusuh yang basah oleh air mata tergenggam erat di tangan kanannya. Angga membukanya kembali, dan membacanya untuk ke seratus kalinya.
Sejak senja hari itu, aku selalu teringat padamu
Setiap nafasku menarikmu ke dalam otakku, terlalu dalam…
Apa kau masih di sana, kasih?
Masih tersisa tempat untukmu, yang selalu ada untukku
Hingga kini kurasakan, serat cinta yang mengakar dalam jantungku
Ia tumbuh dengan siraman cahaya lewat senyummu
Kau warnai duniaku dengan kecupan kecilmu
Setiap kata cintamu mengalir begitu tenang dan dalam
Sedalam hatiku untukmu…
Dengan kenangan akan senyum itu, aku sempurna
Aku terbawa arus, sekuat apapun aku mencoba menepi
Aku akan terus terbawa
Karena aku tak ingin pergi…
Aku hanya ingin bersamamu… Selamanya…
Untuk merpati jantanku, yang selalu hinggap di hati.
Dari Rena
Air matanya menetes mengiringi setiap kata yang dibacanya. Angga terduduk lemas di beranda itu, seluruh akal sehatnya seakan ikut mati bersama Rena. Sepucuk puisi cinta peninggalan terakhir dari kekasihnya itu didekapnya dengan erat seakan memeluk tubuh Rena semasa hidupnya. Senyum dan tatapan Rena hanyalah sebuah kenangan pahit bagi Angga saat itu. Sulit baginya untuk percaya bahwa Rena meninggalkannya dua hari sebelum perayaan tiga tahun cinta mereka.
Angga beralih dan memandang cincin di jari manisnya. Cincin serupa semestinya melingkari jari Rena saat itu, namun cincin itu sekarang tergantung di leher Angga sebagai kalung. Angga meraih cincin itu dan membaca ukiran bertuliskan “Rena” di sekelilingnya. Ia tersenyum pedih membayangkan sosok Rena memakai cincin tersebut, hanya bayangannya saja.
Tangisannya mengalahkan kicauan burung yang riang di pagi hari. Angga sudah tak kuat lagi. Ia berjalan memasuki kamarnya lagi, hilang keseimbangan karena ia sama sekali belum mengistirahatkan tubuhnya selama dua hari ini. Langkahnya sudah tidak teratur dan ia tidak sengaja menjatuhkan bingkai foto di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Itu adalah hadiah dari Rena tepat setahun yang lalu saat perayaan dua tahun hubungan mereka. Bingkai yang menghiasi foto Angga dan Rena itu pecah. Angga meraih foto tersebut dan mengingat kembali saat liburan mereka satu setengah tahun yang lalu di mana foto itu di ambil. Angga rela melakukan apa saja untuk kembali ke masa itu, namun ia tahu itu tidak mungkin.
Angga membalik foto itu dan terkejut melihat tulisan tangan Rena di balik foto itu yang belum pernah ia baca sebelumnya. Angga mendekatkan foto itu dan membacanya.
Saat matahari tak seterang biasanya
Yang harus kau lakukan adalah percaya…
Bahwa sinar baru kelak kan datang
Menembus awan tebal di hatimu
Karena saat seekor burung memutuskan untuk terbang
Ia terpikir akan jatuh
Namun saat ia jatuh, ia terpikir untuk terbang kembali
Karena tempatnya bukan di bumi, melainkan di langit…
Seorang kekasih… saat kau bersedih, apalah yang kulakukan? Sedihmu adalah sedihku… Tawamu adalah tawaku juga… Dan saat kata-kataku tak dapat menyembuhkan luka hatimu… kuberikan puisiku yang berharga… seberharganya dirimu bagiku.
Happy 2nd Anniversary…
RENA
Jantung Angga berdetak cepat. Selama setahun ia belum pernah membaca puisi Rena yang tertulis di balik foto itu. Seakan Rena menegurnya untuk tidak bersedih lagi, dan kembali melanjutkan hidup. Angga menutup kedua matanya dan menemukan bayangan Rena dengan senyum bahagia. Tangisannya terhenti, ia merasakan kehadiran Rena di dekatnya, menjaga dan memperhatikannya selalu. Bayangan itu akan selalu dikenang Angga, sebagai satu-satunya cinta di hatinya.
Angga meraih pena, dan menulis di bagian kosong di balik foto itu, tepat di bawah puisi Rena.
“Aku akan berjalan terus. Karena aku tahu kau menemaniku selalu.”
—————————————————————-
Di tengah gelap malam saya menulis, hanya bermodalkan cahaya monitor laptop, jemari saya loncat kesana-kemari di atas keyboard. Dinginnya malam seakan menarik kata-kata yang merangkai cerita di atas keluar dari otak saya.
Satu dari sekian cerita tentang Rena dan Angga yang saya tulis dengan menggunakan otak dan jiwa saya yang kecil ini, hanyalah potret tentang Cinta Sejati yang dielu-elukan manusia. Saya hanya tersenyum dan bertanya:
Apakah cinta sejati itu benar-benar ada? Ataukah, hanya dalam cerita saja?

nice adik asuh.. keren tuh isinya nuncleb…
oke
cinta sejati itu emang ada….
q sudah merasakannya…
cintailah kekurangannya..
maafkan kecurangannya..
saling rindu….
berbagi air mata suka or duka…
” AMANAH “
Untuk merpati jantanku, yang selalu hinggap di hati.——-> merpati jantan, baru denger disini nih, hebat, buat saya kata-kata itu bernuansa berani sekaligus indah.
Kenapa berani? karena saya tipe perempuan yang gengsinya tinggi buat ngomong seperti itu, hebat deh Rena!
Cinta sejati? ada kali ya, tapi temen saya bilang true love never goes smooth
penyesalan ku tak akan pernah berakhir sampai hayat hdp ku….. tak akan aq lupakan apa yg seda aq lakukan selama ini…… menderita dan trus sengsara … itu semua karna ulah, tingkah dn perbuatan ku…
halo..salam kenal.
standing applause!
i fell in love with “Puisi Untuk Angga”..