Posted by: Ruth on: January 29, 2008
Raungan alarm sialan itu mengawali hariku. Balutan piyama tipis yang kukenakan adalah satu-satunya pelindung tubuhku dari dingin fajar. Aku terbangun, dan menyadari bahwa itu adalah fajar terakhirku di Bandung untuk lima hari ke depan. Sore itu, adalah hari yang kunantikan sejak ajakan sahabatku untuk berlibur.
Hari itu aku terlalu bersemangat, bahkan aku sudah mengepak seluruh barang-barangku, padahal aku tahu bahwa aku masih memerlukan peralatan mandiku di pagi hari. “Aku tidak peduli,” pikirku. Dan ketika alarm berbunyi untuk kedua kalinya, aku baru sadar bahwa tadi aku hanya menekan tombol snooze.
Sore itu, 16 mahasiswa memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaan mereka di kampus untuk sementara. Melarikan diri dari tugas-tugas mereka demi kesenangan pribadi kah? Aku sendiri berpikir demikian. Entah dengan mereka. Namun semangat berliburku lebih besar dari rasa bersalahku. Jadi tetap kuputuskan untuk pergi…
——————————————————————————————————————————-
Tiba di depan Stasiun Bandung, itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sana sejak aku masih duduk di bangku SD. “Sesuatu di dalam sana akan membawaku ke tempat yang belum aku kunjungi sebelumnya”, kataku dalam hati. Dan setelah delapan jam penuh penantian, hal berikutnya yang kusaksikan adalah gelap subuh di Jogja.
“Kota ini berseni.” Itulah kesan pertamaku. Bahkan ketika ia masih diselimuti gelap, seninya terlalu kuat untuk bisa disembunyikan. Bagiku, yang hampir seumur hidupnya dihabiskan di Jakarta, kota metropolitan, Jogja langsung mendapat tempat khusus di hatiku.

Menyenangkan rasanya melihat wajah teman-temanku yang masih penuh dengan keceriaan bahkan setelah delapan jam perjalanan yang melelahkan. Bagiku sendiri, udara Jogja yang sedang kuhirup saat itu menambahkan jiwa baru pada tubuhku yang sebenarnya sedang menangis meminta diistirahatkan. Jogja terlalu indah buatku untuk bisa mengedip sebentar saja. Dan itu tetap kurasakan hingga detik terakhirku di sana.
——————————————————————————————————————————-
Aku menyukai segalanya tentang Jogja kecuali satu: PANAS-nya! Matahari di kota ini sanggup menghitamkan kulitku yang awalnya sudah coklat. Sebelum berangkat ke Jogja, aku sempat memotong pendek rambutku dan aku bersyukur telah melakukannya. Sama sekali tidak terbayang berjalan-jalan di kota ini dengan rambut panjangku yang dulu. Mungkin kepalaku lebih dulu mendidih sebelum kakiku keram berjalan.
Di setiap sisi kota menyimpan cerita. Aku kagum melihat hampir seluruh bangunan di kota ini memiliki nuansa yang sama. Bentuk kuncup bunga di setiap pagar batu menghiasi setiap sudut Jogja dengan caranya sendiri. Seumur hidupku aku selalu berharap sendiri bisa menyaksikan ayu-nya Jogja, dan saat itu aku tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan.
Jogja di malam hari bahkan beratus-ratus kali lebih indah. Lampu-lampu jalanan menyinari kota ini seakan menambah corak bagi kota yang awalnya sudah ‘nyeni’ ini. Ratusan becak dan delman memenuhi pinggir jalan Malioboro. Mereka menjual jasa mengantar para pendatang seperti kami mengelilingi Malioboro hingga Keraton dengan harga 200o perak. “Benar-benar kota seni” pikirku. Dan meskipun aku sudah ribuan kali merasakan naik becak, tapi keinginanku untuk mencoba naik becak di Jogja tetap saja besar.
16 pemuda-pemudi berjalan bersama di jalan itu, berfoto-foto ria tanpa peduli puluhan pasang mata sedang memandangi mereka dengan heran, haha… dan aku termasuk di dalamnya. Apa boleh buat, Jogja terlalu indah untuk hanya dilihat saja. Blitz-blitz kamera di sana-sini, berbagai pose dan ekspresi dipasang untuk menggambarkan perasaan mereka. Buatku, entah ekspresi apa yang bisa kugunakan untuk mengungkapkan kekagumanku.
——————————————————————————————————————————-

Parangtritis dan semburat senja pantai selatan. Sungguh merupakan obat bagiku yang telah cukup penat merasakan terik Jogja. Habis kata-kataku untuk menggambarkan keindahannya. Gambaran pantai selatan selalu ada di bayanganku, dan setiap kali menutup mata, bayangan itu datang menghiburku. Rona Senja:
Tiba di kala Sang Surya menutup hari
Indahnya merah tak pernah seindah senja.
Setiap mata yang menyaksikannya tersihir, namun laut di bawahnya tetap menanti
Bola merah menyala…
menyentuh cakrawala
berbagi warna
lalu tenggelam bersama duka
Menyaksikan keindahan itu, aku tak henti-hentinya berkata, “Terima kasih, Tuhan, Kau ciptakan karya indah di bumi jogja ini.” Aku menjadi saksi saat laut menelan bola merah nan menawan itu. Gelap datang perlahan tapi pasti, membawa suasana baru bagi malam Jojga yang sebelumnya kukenal. Lalu aku sadar, itu bukan malam Jogja, itu Malam Pantai Selatan yang tak kalah indahnya dengan seni kota itu sendiri.
——————————————————————————————————————————-
Oh, Jogja… hatiku sakit meninggalkanmu. Kau merayuku dan berbisik penuh arti tapi aku harus tetap pergi. Indahmu menyimpan sejuta cerita, andai aku dapat hidup cukup lama untuk menguaknya, akan kutulis cerita dibalik setiap corak dalam kainmu. 16 pasang mata yang menjadi saksi kemegahanmu, hanya sedikit bukti dari wajah aslimu. Kelak aku ‘kan kembali lagi dan termakan bisikanmu… lagi.
_Ruth C.B.
Saya pernah tinggal dsana kira2 sekitaran “in the midlle of nineties”, wkt itu suasananya blm spt sekarang yg makin rumit dan macet dulu banyak pohon2 dan banyak taman yg rindang sehingga suasananya jd alamiah romantis kl mlm hari, tp skg…. tetap indah meski hrs kehilangan sekian hektar rimbunnya pepohonan, dan kenangan indahnya membuat orang2 yg pernah tinggal disana akan kembali lg suatu hari, jogja itu begitu kuat atmosfir memorinya dan terpatri ditiap orang yg pernah singgah disana karena keramahannya, keragamannya, keindahannya dan keunikannya menjadikan sebuah seni theatre of mind dlm diri orang yg pernah berinteraksi dlm dekapan kota jogja
percaya deh sampe skg saya tak bs melupaknnya dan msh suka berkunjung kesana utk bernostalgia
Andi W
http://www.andys.8m.com
Jogja…………….
Pengen D Rasanya K Sana……..
Pacar (Mantan) Gw Kabur Tu K Sana…….
Eh….Mw Tny Donkz….
Muup,Emangna Ce2 D jogja Kbnykn G Virgin????????????????????????????Hah????????????????????
aku juga suka jogja…
salam kenal ya, kak!
ha ha ha ….
puasnya aku kuliah di jogja …
maen maen ke jogja lagi ea ^^
Djogja cinta datang,gra2 djogja jg cinta ilang.
Jogja penuh kenangan,
Salut to jogja.
Peace the poker,,real community
May 2, 2008 at 11:06 pm
Jogja memang memiliki atmosfer khasnya sendiri.Siapa yang pernah berkunjung pasti akan tergoda untuk kembali.Tapi kalau siang hari, apalagi pas lalu lintas padat,terutama di jalan-jalan utama,Masya Allah itu panasnya.Moga aja jogja dapat lebih Asri suatu saat nanti.Dan Jogja akan berseri mulai dari pagi sampai pagi lagi.O,ya kalau boleh saya ikut “Ngopi” dong.Maksudnya copy foto lampu kotanya.Ada tugas yang butuhin foto lampu itu soalnya as Icon kota Jogja gitu.(maunya)
Matur Nuwun.